Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
pengertian iman kepada rasul allah swt
pengertian iman kepada rasul allah swt
A. Pengertian Iman kepada Rasul Allah SWT
Iman kepada Rasul Allah termasuk rukun iman yang keempat dari enam rukun
yang wajib diimani oleh setiap umat Islam. Yang dimaksud iman kepada
para rasul ialah meyakini dengan sepenuh hati bahwa para rasul adalah
orang-orang yang telah dipilih oleh Allah swt. untuk menerima wahyu
dariNya untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia agar dijadikan
pedoman hidup demi memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Pengertian rasul dan nabi berbeda. Rasul adalah
manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah SWT untuk dirinya sendiri
dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kepada umatnya.Nabi adalah
manusia pilihan yang di beri wahyu oleh Allah SWT untuk dirinya sendiri
tetapi tidak wajib menyampaikan pada umatnya. Dengan demikian seorang
rasul pasti nabi tetapi nabi belum tentu rasul. Meskipun demikian kita
wajib meyakini keduanya.
Firman Allah SWT :
“Dan
kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira
dan memberi peringatan.Barangsiapa yang beriman dan mengadakan
perbaikan, maka tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.”(QS. Al An’am 6 : 48)
B. Nama-Nama Rasul Allah Dan Sifat Sifatnya
Rasul rasul yang wajib diimani berjumlah 25 orang:
1. Adam As 6. Ibrahim As 11. Yusuf As 16. ZulkiFli As 21. Yunus As
2. Idris As 7. Luth As 12. Ayub As 17. Daud As 22. Zakaria As
3. Nuh As 8. Ismail As 13. Syu’aib As 18. Sulaiman As 23. Yahya As
4. Hud As 9. Ishaq As 14. Musa As 19. Ilyas As 24. Isa As
5. Sholeh As 10. Yaqub As 15. Harun As 20. Ilyasa As 25. Muhammad Saw
- Rasul Ulul Azmi
Rasul ulul azmi adalah utusan Allah yang memiliki kesabaran dan
ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalah kepada umatnya.
Diantaran 25 nabi dan rasul, ada rasul yang di beri gelar ulul azmi, yaitu :
1) Nabi Nuh As
2) Nabi Ibrahim As
3) Nabi Musa As
4) Nabi Isa As
5) Nabi Muhammad SAW
- Sifat wajib Rasul ada 4 antara lain :
- Sidiq : berkata benar
- Amanah : dapat dipercaya
- Tabligh : menyampaikan
- Fathonah : cerdik,pandai
- Sifat mustahil bagi Rasul yaitu :
- Kizib : berkata bohong
- Khianah : tidak dapat dipercaya
- Kitman : menyembunyikan
- Baladah : bodoh
C. Mukjizat Rasul
Fungsi Mukjizat :
- Mukjizat sebagai bukti kebenaran bahwa yang membawanya benar-benar Rasul utusan Allah SWT.
- Mukjizat sebagai senjata yang digunakan oleh para Rasul untuk menghadapi dan mengalahkan musuh-musuh yang menentangnya.
Pada dasarnya Mukjizat dikelompokan menjadi 4 macam, yaitu :
- Mukjizat Kauniyah : Mukjizat yang berhubungan dengan peristiwa alam, seperti terbelahnya laut merah dengan tongkay Nabi Musa As.
- Mukjizat Syahsiyah : Mukjizat yang keluar dari tubuh seorang Rasul, seperti air yang keluar dari celah-celah jari Nabi Muhammad SAW.
- Mukjizat Salbiyah : Mukjizat yang dapat menghilangkan kekuatan, seperti Raja Namrud membakar Nabi Ibrahim As. ,namun api yang membakarnya tidak mempan.
- Mukjizat Akliah : Mukjizat yang masuk akal atau rasional, yaitu Al-Qura’an.
D. Tanda-Tanda Beriman Kepada Rasul-Rasul Allah SWT
- Teguh keimananya kepada Allah SWT
- Mempercayai ajaran yang disampaikan para Rasul
- Mengamalkan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul
- Menjadikan Rasul sebagai teladan hidup, baik sebagai pribadi ataupun pemimpin umat
Allah Berfirman :
“Sesungguhnya
Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzab[33] : 21)
- Mencintai para Rasul dengan cara mengikuti dan mengamalkan Sunnah-sunnahnya
- Mengetahui hakikat dirinya bahwa ia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah SWT
Allah Berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS.Ad-Dzariyat : 56)
- Selalu membaca sholawat atas mereka
- Tidak membeda-bedakan antara Rasul yang satu dengan yang lain
Siapa saja yang menaati para Rasul ,berarti mereka menaati Allah SWT dan
para Rasul-Nya, mereka dijanjikan pahala yang sangat besar & mulia,
tidak hanya masuk Surga, namun akan ditempatkan bersama-sama orang yang
paling tinggi derajatnya, yaitu :
a) Para Nabi dan Rasul, termasuk manusia pilihan
b) Para Siddiqin, ialah orang-orang yang memiliki keteguhan iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya
c) Para Syuhada, merupakan orang yang rela mati dalam membela ajaran agama Islam.
Para Syuhada dikelompokan menjadi 4 ,yaitu :
- Orang yang berjuang di jalan Allah dan mati terbunuh dalam peperangan melawan para kafir.
- Orang yang berjuang di jalan Allah sampai menghabiskan jiwa dan hartanya.
- Orang yang mati tertimpa musibah, seperti melahirkan, teraniaya, dan terbunuh.
- Orang yang selalu berbuat amal sholeh & membawa manfaat bagi kepentingan umum.
E. Contoh Perilaku Beriman kepada Rasul-Rasul Allah SWT dalam Kehidupan Sehari-hari
Perilaku-perilaku yang dilakukan para Rasul dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat yang dapat diteladani ,antara lain :
1) Mengajak manusia mengakui kebesaran Allah SWT. ,baik dalam
sifat-sifatNya dan segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah
Ketuhanan.
2) Menjelaskan kepada manusia tentang cara-cara memuliakan dan
membesarkan Allah SWT dalam bentuk kegiatan ibadah, dan menjauhi
larangan-larangan-Nya.
3) Mengajak manusia untuk memilih akhlak yang mulia
4) Menjelaskan aturan-aturan kehidupan manusia.
5) Mendorong manusia untuk gigih dan giat berusaha mencapai kehidupan yang baik d dunia dan akhirat.
6) Mengajak manusia untuk memalingkan hawa nafsu mereka dari mengecap
kelezatan dunia yang fana untuk mencapai cita-cita yang tinggi.
F. Cara Meneladani Perilaku Rasul dalam Kehidupan Sehari-hari
1) Menjaga amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita selaku
manusia. Amanat yang diberikan Allah SWT yang paling pokok adalah
beribadah kepada-Nya.
2) Memelihara sifat jujur
3) Senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan atau dosa yang kita lakukan setiap hari.
G. Cara Meningkatkan Kadar Keimanan Kepada Para Rasul Allah
1) Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan merenungkan Maknanya
2) Mempelajari dengan cermat sejarah (siroh) para Rasul Allah
3) Mempelajari Kehidupan orang-orang sholeh (Generasi Shalafus
Sholihin, para sahabat Rasul, murid-murid para sahabat, tabi’in dan
tabi’it tabi’in) ,karena mereka adalah generasi-generasi terbaik dalam
Islam.
H. Fungsi Iman Kepada Rasul Allah SWT
- Bertambah iman kepada Allah SWT dengan mengetahui bahwa rasul benar-benar manusia pilihan Allah.
- Memperoleh teladan yang baik untuk menjalani hidup.
Pengertian rukun islam
Pengertian rukun islam
Rukun islam menurut bahasa arab yaitu
arkan al-din atau arkan al-islam yang memeiliki arti pilar agama.
Sedangkan menurut istilah rukun islam adalah suatu tindakan atau amalan
yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang merupakan dasar atau
pondasi dari hidupnya.
Bisa kita ibaratkan seperti bangunan ,
pondasi merupakan bagian yang harus ada dan merupakan awal dari
terbentuknya bangunan. Jika suatu bangunan tidak memiliki pondasi maka
banguna tersebut tidak akan dapat berdiri.Begitupun seseorang yang
mengaku islam atau yang akan masuk islam harus mengetahui dan melakukan
semua rukun islam.
1.
Mengucap Dua Kalimat Syadahat
Syarat yang paling pertama seseorang
untuk menjadi seorang muslim adalah mengucapkan dua kalimat syahadat.
makna Syahadat adalah
mengucap dengan lidah, membenarkan dengan hati dan mengamalkan melalui
perbuatannya. Bunyi 2 kalimat syahadat yaitu:
2. Melakukan Sholat Fardhu 5 Waktu
Rukun islam yang kedua adalah
sholat. Sebagai seorang muslim maka ia mempunyai kewajiban untuk melaksanakan
sholat fardhu 5 waktu. (subuh, zuhur, ashar, magrib dan insya). Apabila dia
tidak melaksanakan sholat berarti dirinya tidak disebut sebaagi islam. Karena
sholat adalah tiangnya agama, dan yang paling utama dihisab diakhirat kelak.
Perintah sholat disebutkan dalam
Al-quran surat Surat Al ankabut ayat 45:
"Dan dirikanlah sholat sesungguhnya sholat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar"
3. Berpuasa dibulan ramadhan
Artikel terkait : 5 Rukun Islam Lengkap Dengan Penjelasan Dan Dalilnya
Pengertian, Hukum, Jenis, Dan Macam-Macam Riba Serta Contohnya
Pengertian
Riba
Riba men ...
Subhanallah! Ternyata Inilah Amalan Ringan Yang Paling Besar Pahalanya
Allah SWT menciptakan makhluknya hany ...
Rukun islam yang ketiga adalah
berpuasa dibulan ramadhan. Puasa adalah menahan diri dari segala yang
membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.
Perintah puasa Allah sebutkan dalam
Al-Quran surat albaqarah ayat 183:
"Hai
orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"
4. Membayar Zakat fitrah
Rukun islam yang ke eempat adalah
membayar zakat. Zakat adalah sesuatu yang harus dikeluarkan oleh seseorang
kepada orang tertentu dengan qadar tertentu pula.
Zakat ada 2 yaitu :
pertama: zakat fitrah yaitu zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim pada saat hari raya idul fitri ( akhir dari bulan ramadhan) berupa makanan pokok yang dimakannya sehari-hari.
pertama: zakat fitrah yaitu zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim pada saat hari raya idul fitri ( akhir dari bulan ramadhan) berupa makanan pokok yang dimakannya sehari-hari.
Kedua : zakat mal yautu
zakat zakat hasil perniagaan, yang wajib dikeluarkan seseorang apabila sudah
sampai nisab.
Perintah zakat dalam
Al-quran surat albaqarah ayat 43 :
5. Melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu
Rukun islam yang
terakhir adalah melaksanakan ibadah haji. Ini dikhususkan bagi orang-orang yang
sudah mampu dari segi hartanya.
Sumber: http://warohmah.com/pengertian-rukun-islam/
Tata cara melakukan wudhu
Tata cara melakukan wudhu
1. Mencuci / membasuh kedua telapak tangan tiga kali sambil membaca basmalah.
"Bismilaahir rahmanir rahiim"
2. Membersihkan mulut dan lubang hidung, masing-masing sebanyak tiga kali.
3. Membasuh muka sebanyak tiga kali sambil mengucapkan doa niat wudhu.
Bacaan Doa Niat Wudhu
“Nawaitul wudhuu-a liraf’ll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta’aalaa”
Arti Doa Niat Wudhu
“Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah semata.”
4. Mencuci / membersihkan tangan kanan dan kiri, mulai dari ujung jari hingga pangkal / batas siku, masing-masing sebanyak tiga kali.
5. Mengusap kepala mulai dari dahi hingga batas rambut bagian atas sebanyak tiga kali.
6. Menyapu / membersihkan kedua telinga mulai bagian daun telinga bawah dan menuju bagian atas, sebanyak tiga kali.
7. Mencuci / membersihkan kaki kanan dan kiri, mulai dari ujung jari merata hingga mata kaki, masing-masing sebanyak tiga kali.
8. Membaca doa setelah wudhu.
Bacaan Doa Setelah Wudhu
“Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna mUhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j’alnii minat tawwabiina, waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash shalihiina.”
Arti Doa Setelah Wudhu
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukanNya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli bertobat, jadikanlah aku orang yang suci, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.”
Didalam Mengerjakan Wudhu DiAtas Wajib dikerjakan secara Teratur(berurutan) Artinya Mana yang harus didahulukan Pertama Dan harus akhir Diakhiri, Oke Sobat KAI sekian Dan Terimakasih Wasslamualaikum Wr. Wb.
Sumber: http://kamianakislam.blogspot.co.id/2013/07/tata-cara-wudhu-yang-baik-dan-benar.html
1. Mencuci / membasuh kedua telapak tangan tiga kali sambil membaca basmalah.
"Bismilaahir rahmanir rahiim"
2. Membersihkan mulut dan lubang hidung, masing-masing sebanyak tiga kali.
3. Membasuh muka sebanyak tiga kali sambil mengucapkan doa niat wudhu.
Bacaan Doa Niat Wudhu
“Nawaitul wudhuu-a liraf’ll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta’aalaa”
Arti Doa Niat Wudhu
“Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah semata.”
4. Mencuci / membersihkan tangan kanan dan kiri, mulai dari ujung jari hingga pangkal / batas siku, masing-masing sebanyak tiga kali.
5. Mengusap kepala mulai dari dahi hingga batas rambut bagian atas sebanyak tiga kali.
6. Menyapu / membersihkan kedua telinga mulai bagian daun telinga bawah dan menuju bagian atas, sebanyak tiga kali.
7. Mencuci / membersihkan kaki kanan dan kiri, mulai dari ujung jari merata hingga mata kaki, masing-masing sebanyak tiga kali.
8. Membaca doa setelah wudhu.
Bacaan Doa Setelah Wudhu
“Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna mUhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j’alnii minat tawwabiina, waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash shalihiina.”
Arti Doa Setelah Wudhu
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukanNya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli bertobat, jadikanlah aku orang yang suci, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.”
Didalam Mengerjakan Wudhu DiAtas Wajib dikerjakan secara Teratur(berurutan) Artinya Mana yang harus didahulukan Pertama Dan harus akhir Diakhiri, Oke Sobat KAI sekian Dan Terimakasih Wasslamualaikum Wr. Wb.
Sumber: http://kamianakislam.blogspot.co.id/2013/07/tata-cara-wudhu-yang-baik-dan-benar.html
PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa indonesia adalah keadaan wajib
menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus
umum bahasa indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab,
menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung
akibatnya.
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab
juga berarti berbuat sebagai wujudan kesadaran akan kewajibannya.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bertanggung jawab.Disebut
demikian karena manusia, selain merupakan makhluk individual dan
makhluk sosial, juga merupakan makhluk ‘I’uhan. Manusia memiliki
tuntutan yang besar untuk bertanggung jawab mengingat ia mementaskan
sejumlah peranan dalam konteks sosial, individual ataupun teologis.
Dalam konteks sosial manusia merupakan makhluk sosial.Ia
tidak dapat hidup sendirian dengan perangkat nilai-nilai sclera
sendiri. Nilai-nilai yang diperankan seseorang dalam jaminan sosial
harus dipertanggungjawabkan sehingga tidak mengganggu konsensus nilai
yang telah disetujui bersama. Masalah tanggung jawab dalam konteks
individual berkaitan dengan konteks teologis.Manusia sebagai makhluk
individual artinya manusia harus bertanggung jawab terhadap dirinya
(seimbangan jasmani dan rohani) dan harus bertanggung jawab terhadap
Tuhannya (sebagai penciptanya). Tanggung jawab manusia terhadap dirinya
akan lebih kuat intensitasnya apabila ia mentiliki kesadaran yang
mendalam. Tanggung jawab manusia terhadap dirinya juga muncul sebagai
akibat keyakinannya terhadap suatu nilai.
Demikian pula tanggung jawab manusia terhadap Tuhannya, manusia sadar
akan keyakinan dan ajaran-Nya. Oleh karena itu manusia harus menjalankan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar manusia dijauhkan dari
perbuatan keji dan munkar.
Tanggung jawab dalam konteks pergaulan manusia adalah keberanian.Orang
yang bertanggung jawab adalah orang yang berani menanggung resiko atas
segala yang menjadi tanggung jawabnya. Ia jujur terhadap dirinya dan
jujur terhadap orang lain, tidak pengecut dan mandiri. Dengan rasa
tanggung jawab, orang yang bersangkutan akan berusaha melalui seluruh
potensi dirinya. Selain itu juga orang yang bertanggung jawab adalah
orang yang mau berkorban demi kepentingan orang lain.
Sumber: https://herujulianto89.wordpress.com/2013/12/12/pengertian-dari-tanggung-jawab-yang-baik-antara-manusia/
Pengertian Surat dan Ayat
Pengertian Surat dan Ayat
Makna ayat dapat ditinjau dari dua segi, yaitu secara bahasa (etimologi) dan secara istilah (terminologi). Secara bahasa, ayat dapat diartikan dalam banyak makna. Diantaranya adalah mukjizat, tanda atau alamat, pelajaran atau peringatan, suatu hal yang mentakjubkan, kelompok atau kumpulan, dan bukti[1] . Secara istilah ayat diartikan sebagai sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam suatu surat Al-Qur’an. Sedangkan pengertian surat ditinjau dari sisi etimologi adalah manzilah atau kedudukan[2]. Dan surat secara terminologi berarti sejumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.[3]
Jumlah Surat dan Ayat dalam Al-Qur’an
Ulama telah menetapkan jumlah ayat dalam Al-Qur’an adalah 6200 lebih. Yang dimaksud 6200 lebih adalah jumlah lebihnya itu masih terjadi perbedaan pendapat antar ulama. Seperti halnya ulama Madinah menetapkan 6217 ayat. Penetapan yang kedua ulama Madinah, menurut Syaiban, adalah 6214 ayat, sedangkan menurut Abu Ja’far adalah 6210 ayat. Sedangkan Ulama Makkah, menurut riwayat Ibnu Katsir, terdapat 6220 ayat, menurut riwayat ‘Ashim Ulama Bashrah menetapkan 6205 ayat, ulama Kufah menyebutkan 6236 ayat menurut riwayat Hamzah, dan menurut riwayat Yahya bin Al-Haris menentukan 6226 ayat dalam Al-Qur’an. [4]
Salah satu penyebab perbedaan jumlah ayat Al-Qur’an yang terjadi dikalangan ulama ini terjadi karena semula Nabi Muhammad membaca waqaf pada tiap-tiap ayat untuk mengajarkan atau menunjukkan kepada para sahabat bahwa lafadz yang dibaca waqaf itu adalah fashilah. Kemudian jika sahabat telah mengetahui tentang fashilah tersebut Nabi Muhammad akan membaca washal untuk menyempurnakan maknanya. Hal inilah yang menimbulkan selisih pendapat antar ulama.[5]
Jumlah surat menurut jumhur ulama dalam Al-Qur’an ada 114 surat. Namun jumlah surat Al-Qur’an tersebut juga tidak lepas dari perbedaan. Ada ulama yang berpendapat jumlah surat dalam Al-Qur’an adalah 113. Karena ulama tersebut beranggapan surat Al-Anfal dan At-Taubah adalah satu surat. Surat terpanjang adalah surat Al-Baqarah yang terdiri dari 286 ayat, dan surat terpendek adalah surat Al-Kautsar yang terdiri dari 3 ayat.[6]
Pengelompokan Surat dan Ayat
a. Pengelompokan ayat
Menurut pendapat jumhur ulama, pengelompokan ayat Al-Qur’an dilakukan dengan cara tauqifi yang artinya adalah berdasarkan ketetapan nabi. Argumen dari jumhur ulama tersebut seperti, kata (yaasin) dihitung sebagai ayat sedangkan kata (thoosiin) bukan sebuah ayat. Dan kata (khaamimsinnqaf) dihitung dua ayat sedangkan (kafha’mim’ainshad) dihitung satu ayat.[7] Setiap Jibril turun dengan membawa ayat-ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, sekaligus memberi petunjuk tentang urutan dan penempatan ayat-ayat tersebut pada masing-masing suratnya. Kemudian Nabi Muhammad membacakannya kepada para shahabat dan memerintahkan kepada para sekretaris wahyu untuk menulis sesuai dengan urutan tempatnya pada masing-masing surat tersebut.[8]
Adapun beberapa ulama lain menyebutkan pengelompokan ayat Al-Qur’an adalah sebagian tauqifi dan sebagian lain secara qiyas. Sebab ketentuan suatu ayat terletak pada fashilahnya.[9] Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling kuat adalah ayat Al-Qur’an ditertibkan hanya berdasarkan ketetapan Nabi Muhammad SAW.
b. Pengelompokan surat
Jika pengelompokan ayat Al-Qur’an terdapat dua pandangan, beda halnya dalam pengelompokan surat dalam Al-Qur’an, yaitu ada tiga pandangan. Pandangan pertama mengatakan bahwa pengelompokan atau tertib surat berdasarkan ijtihad para sahabat. Adapun ulama yang mendukung pendapat pertama ini adalah Imam Maliki, Alqadhi Abu Bakar, dan Ibnu Faris dalam bukunya yang berjudul “Kitabul Khamsi”. Alasan-alasan yang dikemukakan diantaranya adalah mushaf-mushaf para sahabat berbeda-beda dalam penertiban suratnya sebelum Khalifah Ustman Bin Affan memerintahkan penghimpunan secara seragam. Maka sekiranya pengelompokan itu secara tauqifi, tidak akan terjadi perbedaan. Karena ketentuan nabi itu mutlak untuk dilaksanakan. [10]
Sumber: http://kumpulan2makalahpai.blogspot.co.id/2015/12/surat-dan-ayat-dalam-al-quran-2.html
Makna ayat dapat ditinjau dari dua segi, yaitu secara bahasa (etimologi) dan secara istilah (terminologi). Secara bahasa, ayat dapat diartikan dalam banyak makna. Diantaranya adalah mukjizat, tanda atau alamat, pelajaran atau peringatan, suatu hal yang mentakjubkan, kelompok atau kumpulan, dan bukti[1] . Secara istilah ayat diartikan sebagai sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam suatu surat Al-Qur’an. Sedangkan pengertian surat ditinjau dari sisi etimologi adalah manzilah atau kedudukan[2]. Dan surat secara terminologi berarti sejumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.[3]
Sumber gambar: http://masarif.xyz/cara-mudah-menghafal-nama-nama-surat-dalam-al-quran.html
Jumlah Surat dan Ayat dalam Al-Qur’an
Ulama telah menetapkan jumlah ayat dalam Al-Qur’an adalah 6200 lebih. Yang dimaksud 6200 lebih adalah jumlah lebihnya itu masih terjadi perbedaan pendapat antar ulama. Seperti halnya ulama Madinah menetapkan 6217 ayat. Penetapan yang kedua ulama Madinah, menurut Syaiban, adalah 6214 ayat, sedangkan menurut Abu Ja’far adalah 6210 ayat. Sedangkan Ulama Makkah, menurut riwayat Ibnu Katsir, terdapat 6220 ayat, menurut riwayat ‘Ashim Ulama Bashrah menetapkan 6205 ayat, ulama Kufah menyebutkan 6236 ayat menurut riwayat Hamzah, dan menurut riwayat Yahya bin Al-Haris menentukan 6226 ayat dalam Al-Qur’an. [4]
Salah satu penyebab perbedaan jumlah ayat Al-Qur’an yang terjadi dikalangan ulama ini terjadi karena semula Nabi Muhammad membaca waqaf pada tiap-tiap ayat untuk mengajarkan atau menunjukkan kepada para sahabat bahwa lafadz yang dibaca waqaf itu adalah fashilah. Kemudian jika sahabat telah mengetahui tentang fashilah tersebut Nabi Muhammad akan membaca washal untuk menyempurnakan maknanya. Hal inilah yang menimbulkan selisih pendapat antar ulama.[5]
Jumlah surat menurut jumhur ulama dalam Al-Qur’an ada 114 surat. Namun jumlah surat Al-Qur’an tersebut juga tidak lepas dari perbedaan. Ada ulama yang berpendapat jumlah surat dalam Al-Qur’an adalah 113. Karena ulama tersebut beranggapan surat Al-Anfal dan At-Taubah adalah satu surat. Surat terpanjang adalah surat Al-Baqarah yang terdiri dari 286 ayat, dan surat terpendek adalah surat Al-Kautsar yang terdiri dari 3 ayat.[6]
Pengelompokan Surat dan Ayat
a. Pengelompokan ayat
Menurut pendapat jumhur ulama, pengelompokan ayat Al-Qur’an dilakukan dengan cara tauqifi yang artinya adalah berdasarkan ketetapan nabi. Argumen dari jumhur ulama tersebut seperti, kata (yaasin) dihitung sebagai ayat sedangkan kata (thoosiin) bukan sebuah ayat. Dan kata (khaamimsinnqaf) dihitung dua ayat sedangkan (kafha’mim’ainshad) dihitung satu ayat.[7] Setiap Jibril turun dengan membawa ayat-ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, sekaligus memberi petunjuk tentang urutan dan penempatan ayat-ayat tersebut pada masing-masing suratnya. Kemudian Nabi Muhammad membacakannya kepada para shahabat dan memerintahkan kepada para sekretaris wahyu untuk menulis sesuai dengan urutan tempatnya pada masing-masing surat tersebut.[8]
Adapun beberapa ulama lain menyebutkan pengelompokan ayat Al-Qur’an adalah sebagian tauqifi dan sebagian lain secara qiyas. Sebab ketentuan suatu ayat terletak pada fashilahnya.[9] Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling kuat adalah ayat Al-Qur’an ditertibkan hanya berdasarkan ketetapan Nabi Muhammad SAW.
b. Pengelompokan surat
Jika pengelompokan ayat Al-Qur’an terdapat dua pandangan, beda halnya dalam pengelompokan surat dalam Al-Qur’an, yaitu ada tiga pandangan. Pandangan pertama mengatakan bahwa pengelompokan atau tertib surat berdasarkan ijtihad para sahabat. Adapun ulama yang mendukung pendapat pertama ini adalah Imam Maliki, Alqadhi Abu Bakar, dan Ibnu Faris dalam bukunya yang berjudul “Kitabul Khamsi”. Alasan-alasan yang dikemukakan diantaranya adalah mushaf-mushaf para sahabat berbeda-beda dalam penertiban suratnya sebelum Khalifah Ustman Bin Affan memerintahkan penghimpunan secara seragam. Maka sekiranya pengelompokan itu secara tauqifi, tidak akan terjadi perbedaan. Karena ketentuan nabi itu mutlak untuk dilaksanakan. [10]
Sumber: http://kumpulan2makalahpai.blogspot.co.id/2015/12/surat-dan-ayat-dalam-al-quran-2.html





